Catatan Pinggir Pilwali Surabaya, Akankah 25 Tahun Berkuasa?

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana


Oleh : M Mufti Mubarok

Hampir 20 tahun, Surabaya dipimpin oleh kader Partai Merah. Dua periode Bambang Dwi Hartono dan 2 periode Risma (Tri Rismaharini). Hegemoni PDIP selama 20 tahun tak tergoyahkan.

Meski PDIP pernah kalah dengan PKB dan Partai Demokrat di parlemen, namun apapun partainya, PDIP tetap Wali Kotanya.

Tahun 2020 sebentar lagi. Perhelatan Pilwali Surabaya akan digelar. Akankah PDIP bisa bertahan untuk 5 tahun ke depan?

Faktanya dalam pemilu 2019 PDIP masih menjadi pemenang telak jauh dari partai lain. Adalah Bambang DH dan Risma yang menjadi ikon sekaligus simpul kemenangan Partai Merah Ini.

Bagaimana konstelasi pilwali 2020 ? Setidaknya ada 3 poros yang muncul:

Pertama, Poros Merah

Setidaknya PDIP bisa mengusung 1 paket. Namun tokoh dari PDIP cukup banyak meskipun nanti mengerucut menjadi 1. Sebut saja Wisnu Shakti Buana, Ery Cahyadi, Putin Soekarno Putri, Diah Katarina.

Namun keputusan terakhir tetap di Ibu Mega . Bu Mega tampaknya akan condong ke calonnya Risma. Siapa dia? Sudah bisa ditebak siapa calonnya Risma.

Kedua, Poros Pelangi

Gabungan partai tengah, ada partai dari orange, biru dan hitam dan lain-lain. Namun tokoh-tokoh poros ini kurang bisa dijual alias krisis tokoh.

Ketiga, Poros Ketiga

Pada poros ini, muncullah tokoh-tokoh muda, baik dari partai kecil maupun dari independen berlomba. Para calon-calon poltisi modal bonek ini bermunculan. Yang penting muncul dulu dan entah nanti gimana belum jelas.

Rata rata calon poros ketiga ini masih cek sound semua. Hasil polling masih di bawah 5 persen semua elektabiltasnya.

Kalau dari poros yang ada, dengan pengalaman 4 kali pemilu di Surabaya PDIP masih tak terkalahkan.

Skenario pertama adalah kalau poros pertama maju sendiri maka masih kuat. Kalau poros pertama dan kedua gabung maka akan tidak tertandingi.

Bagaimana peluang poros ketiga? Poros ketiga tampaknya akan menjadi kuda hitam yang tidak hitam, artinya hanya pengembira demokrasi. Namun poros pertama juga di awal-awal akan ada perpecahan yang sengit meski nantinya akan solid lagi dengan kompromi. (**)

*) Direktur Lembaga Survey Regional/LeSuRe