Kisah Sukses Jamhadi Membangun PT Tata Bumi Raya

Jamhadi dan jajaran direksi PT Tata Bumi Raya


POLIPRENEUR.com - Nama Dr. Ir. Jamhadi, MBA, di kalangan pengusaha di Jawa Timur sudah tak asing lagi. Maklum saja, sosoknya sering tampil di beberapa media, baik cetak maupun elektronik untuk menyampaikan ide-ide dan gagasannya serta kondisi perekonomian di Jawa Timur ter update.

Disaat mengemban amanah sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Surabaya, Jamhadi menyadari betapa kompleksnya permasalahan dalam dunia usaha. Mulai dari permasalahan upah tenaga kerja, serbuan produk impor, hingga keamanan. Tidak heran, jika sebagian waktunya dihabiskan untuk mengabdi pada KADIN demi terciptanya kondisi perekonomian yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini didasari oleh Undang-Undang, dimana KADIN sebagai mitra strategis pemerintah, dan juga sebagai wadah bagi dunia usaha yang didirikan berdasarkan Udang-Undang No.1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Selain sebagai Ketua KADIN Surabaya, Jamhadi juga tercatat sebagai Chairman  PT. Tata Bumi Raya dengan membawahi kurang lebih 7.000 tenaga kerja. Dia mampu membawa PT. Tata Bumi Raya dari perusahaan yang merugi dan sekarang menjadi salah satu perusahaan kontraktor papan atas dengan omzet hingga triliunan rupiah.

Jamhadi menceritakan bagaimana dia hidup dalam lingkungan keluarganya dengan ekonomi sederhana di Mojokerto.  Ayahnya merupakan pengerajin alat-alat kebutuhan rumah tangga dari logam, seperti sendok, plat, dan piring. Ibunya ialah seorang pedagang sayur keliling.

Dari kondisi keluarganya itu, Jamhadi terbiasa membantu orangtuanya membuat alat-alat dapur, atau ikut berjualan keliling bersama ibunya. Kesulitan itulah yang membuatnya mendapatkan pendidikan dari tempat belajar yang dinamakan Universitas Kehidupan.

Dengan pengalaman berdagang sejak keci itulah, menjadikan Jamhadi tidak bercita-cita jadi karyawan melainkan bercita-cita sebagai pengusaha. Dengan tekad yang teguh, dia berusaha menjadi seorang pengusaha sukses. Tekad itu terus dipegang saat dia hijrah ke Surabaya untuk kuliah jurusan Teknik Sipil di Institut Adhi Tama Surabaya (ITATS).

Selama masa kuliah, dia tidak ingin berpangku tangan kepada orangtuanya. Karena itu, dia bekerja disamping kuliah. Pagi hari hingga sore, Jamhadi bekerja. Lalu sore harinya sampai pukul 22.00 WIB kuliah.

“Selama kuliah saya harus bekerja. Berbeda dengan kebanyakan anak-anak muda saat itu, mereka datang ke Surabaya hanya untuk kuliah. Tetapi saya sebagai anak yang datang dari desa dan memiliki saudara banyak, saya menyadari untuk bisa terus kuliah harus bekerja karena tidak ingin berpangku pada orang tua,” kata Jamhadi.

Sepanjang perjalanan hidupnya itu, Jamhadi bertemu dengan Soecipto atau Pak Cip, seorang kontraktor asal Surabaya yang juga politisi PDIP. Saat itu, Jamhadi menjadi konsultan di bidang konstruksi. Lantas, Soecipto mengajak Jamhadi bergabung di perusahaannya dengan kondisi perusahaan tersebut sudah bangkrut. Tawaran itu diterimanya dengan satu alasan, bahwa Soecipto merupakan penemu sistem fondasi. Dan dia yakin, penemu itu memiliki suatu kelebihan.              

Dalam keadaan bangkrut dan hutangnya banyak serta tidak bisa memberi gaji karyawannya, Jamhadi semakin tertantang untuk membawa perusahaan itu lepas dari kebangkrutan. Lalu, Soecipto menyerahkan jalannya perusahaan ke Jamhadi, sedangkan Soecipto fokus ke politik.

Di tangan Jamhadi, perusahaan Soecipto dalam kurun waktu 6 tahun sudah bisa melunasi hutangnya yang mencapai miliaran rupiah. Pelan tapi pasti, Jamhadi kemudian mengubah paradigma tentang konstruksi yang selama ini ada, yaitu jasa konstruksi menjadi industri konstruksi. Industri konstruksi tentu memiliki nilai tambah relatif sangat besar. Maka dari situlah, dia mulai melakukan riset, dan akhirnya menemukan TBR.

Pada tahun 2000, perusahaan yang dikelola Jamhadi berubah dari CV. Tatabumi Raya menjadi PT Tata Bumi Raya yang memiliki filosofi menata bumi. Jamhadi duduk sebagai Direktur Utama. Lalu pada tahun 2008, saham PT Tata Bumi Raya dijual semuanya oleh Soecipto ke Jamhadi. Dan sejak itulah, PT  Tata Bumi Raya terus tumbuh dan berkembang, bahkan punya hak paten TBR-J.

Posisi sebagai Direktur Utama ini tidak membuat Jamhadi cepat puas. Jamhadi menyadari, dinamika kehidupan akan selalu ada. Pasang surut kehidupan pasti akan dialami setiap orang, termasuk dirinya. Apalagi, persaingan di eksternal sangatlah ketat.

Oleh karena itulah, untuk tetap survive, salah satu upayanya ialah mengembangkan keilmuannya. Jamhadi tidak segan belajar kepada pemuda-pemuda kreatif. Dan juga, menjadikan profesinya sebagai pengusaha menjadi suatu kebutuhan. Dengan demikian, dia bisa membantu banyak orang, dan bekerjasama dengan pemerintah dengan membuka lapangan kerja.

“Kalau semua dibebankan ke pemerintah tidak mungkin, kami dari dunia usaha harus membantu pemerintah,” ujarnya.

Sejak tahun pendiriannya, PT Tata Bumi Raya telah mengerjakan beberapa bangunan gedung bertingkat. Pekerjaannya meliputi hotel, sekolah, kampus (universitas), kantor-kantor, mall, pabrik, perpipaan, drainase, parairan, perumahan, landasan jembatan, dan jalan raya, dan lain sebagainya. Bidang pekerjaan lainnya termasuk pondasi, struktur, arsitektur, finishing, serta mekanikal elektrikal. (*)

Source : Polipreneur.com