Pernah Ditipu Teman Rp 72 Juta, Pria Ini Tak Kapok Merangkul Anak "Sampah"

Faisal Yasir Arifin (kanan) bersama anak "sampah" yang dikaryakan


POLIPRENEUR.com - Urip iku urup. Falsafah Jawa yang bermakna "Hidup itu Nyala" ini memiliki ajaran kebaikan yang harus diterapkan oleh setiap insan.

Dalam falsafah Jawa itu, makna hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita. Semakin besar manfaat yang kita berikan tentu akan semakin baik bagi kita maupun orang lain.

Makna filosofi ini luar biasa, bahwa kita dilahirkan di dunia ini bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semua hanya untuk diri sendiri, akan tetapi kita lahir untuk saling memberi, menolong dan membantu sesama tanpa ada rasa pamrih.

Adalah Faisal Yasir Arifin, yang hidupnya tak lepas dari falsafah "urip iku urup".

Pria alumnus Jurusan Jurnalistik Universitas Muhammadiyah Malang ini bercerita melalui akun media sosialnya bagaimana dia meng-karyakan anak "sampah", meski dirinya sendiri sempat ditipu oleh rekan bisnisnya sebesar Rp 72 juta.

Anak "sampah" yang dimaksud ialah anak yang semasa hidupnya merasa kurang mendapat perhatian, misalnya anak yatim piatu, anak putus sekolah, pemabok, bahkan pengguna narkoba.

Faisal mengkaryakan mereka melalui usaha angkringan yang terletak di tepi Frontage Road sisi barat Jalan Achmad Yani Surabaya (sebelah toko Kimia Farma).

Angkringan Mas Kliwon

Berikut kisah lengkapnya yang dia tulis di akun facebook "Faisal Yasir Arifin" berjudul "Merangkul Anak 'Sampah'".

Tahun ini, saya gak bisa ngasih THR buat kawan kawan buah, karena abis ketipu teman bisnis Rp 72 juta.

Tapi, saya punya cara lain agar mereka tetap bisa 'bergembira'. Yakni, selama -/+ 10 hari, saya gak mengambil secuilpun keuntungan dari Angkringan Mas Kliwon. Sepenuhnya, saya berikan ke kawan kawan buah.

Ya, mereka adalah bekas 'sampah'. Anak putus sekolah, anak yatim, pemabok, bahkan mantan pengedar pil koplo.

Mereka memang saya rangkul. Sejak awal, saya memang niati 'syi'ar' dengan cara saya. Saya ajari bisnis meski kecil-kecilan. Saya wajibkan puasa. Saya minta sholat sebisa mereka. Saya ajari mulutnya melafadzkan sholawat, meski masih suka 'misuh'. 

Perlahan, 'kelas' mereka naik. Masyarakat sekitar pun mulai melihat sebagai anak yang baik. Ortunya pun sumringah.

Saya minta untuk selalu mendoakan 1 alfatihah saja setiap hari, untuk masa depan anaknya yang "nyantri usaha" di angkringan.

Mereka, maksimal hanya boleh ikut saya 2 tahun. Setelahnya, akan saya 'pecat' dan wajib membuka usaha sendiri dengan modal penuh dari saya.

Motivasi yang saya suntikkan adalah kalimat gahar, "Buktikan kalian mampu, buat bangga orang tuamu. Kelak, yang menganggapmu sampah akan menelan ludahnya sendiri".

Ampuh.. Etos dan effort kerja mereka berlipat. Semangat.

Insha Alloh, abis Lebaran, satu unit lagi saya sediakan untuk pemuda-pemuda yang dianggap 'sampah' ini.

Kelak, jika Tuhan berkenan, akan ada puluhan, aamiin.

Merangkul dan menuntun meski hanya sekelas apalah itu. Sungguh, saya tidak punya pretensi pamer dengan tulisan ini, namun saya ingin menginspirasi pembaca untuk melakukan hal yang sama.

Menggamit anak-anak bangsa yang terpinggirkan. Daripada sibuk menghujat penguasa, mending berbuat.

Sekuat apalah bisa.

Secuil apalah itu. Pasti bermakna.

Dan kelak, akan jadi penambah timbangan amal kita di hari penghitungan. (*)

Source : Polipreneur Newsroom

Berita Terkait