Bermodal Rp 5 Juta, Kini Edwin Mampu Besarkan TFG Beromzet Ratusan Juta

Edwin Yani Widjaja (kiri) dan Tim Ahli KADIN Jawa Timur sekaligus Ketua KADIN Surabaya, menunjukkan produk TFG.


POLIPRENEUR.com - Muda dan kreatif. Itulah kata yang pantas disematkan kepada Edwin Yani Widjaja. Hanya bermodal Rp 5 juta, alumnus UK Petra Surabaya ini sekarang bisa menghasilkan omzet ratusan juta dari usaha fashion yang digelutinya.

Berikut lika-liku membesarkan usaha fashion dengan brand Taylor Fine Goods (TFG).

Edwin tak salah arah ketika dia menentukan untuk menggeluti usaha fashion. Bagaimana tidak, industri fashion memang tidak pernah kering inovasi. Berbagai macam produk dengan kualitas dan keunikan banyak di pasar Indonesia saat ini. Tak terkecuali Taylor Fine Goods (TFG) yang ikut meramaikan sejak tahun 2012 lalu.

Edwin membawa bendera usaha CV. Samudra Canvas Indo untuk memasarkan tas tangan, ransel, dompet, ikat pinggang, hingga tali kamera kekinian.  TFG adalah salah satu merek usaha lokal asal Surabaya yang saat ini sudah memasarkan produknya hingga Negeri Jiran, Singapura dan Thailand.

Edwin Yani Widjaja, pemilik dan pendiri TFG memulai usahanya di bidang tas dan strap/tali kamera pada tahun 2012 silam dengan modal Rp 5 juta. Edwin pun mengaku, saat itu dirinya hanya sekedar mempunyai penghasilan.

“Saya tidak punya basic (bisnis), orang tua pun tidak, teman pun tidak, ya pokoknya usaha waktu itu hanya untuk bisa dapat penghasilan sendiri,” ujar pria kelahiran di Jember pada 3 Desember 1987.

Dia bercerita, awalnya memilih berbisnis tas dan strap untuk kamera, karena di Indonesia belum ada produk yang murah dengan kualitas bagus. 

Saat itu, yang ada produk impor dengan harga yang sangat mahal karena fotografi belum sepopuler saat ini. Edwin pun kala itu mengincar kalangan fotografer.

“Dulu, fotografi belum jadi lifestyle kayak sekarang. Jadi masih pure ke tekniknya dan fotografinya. Lama-lama dunia fotografi ini makin banyak pesaingnya, kalau supply-nya terus ada tapi peminatnya sedikit bisa rugi,” tutur Edwin.

Dalam 2 tahun dirinya mengalami kerugian, karena produk tas dan strap kamera buatannya kurang banyak diminati.

“Kita jual di toko kamera, penjualannya jelek. Ada yang masuk ke toko tapi tidak di pasang di display. Struggling banget waktu itu,” cerita Edwin.

Akhirnya dia pun mencoba cara lain. Edwin kemudian memasarkan produknya ke distro-distro. Tak dinyana, produk TFG disambut baik oleh konsumen.

“Kami akhirnya coba salurkan ke toko-toko distro, lifestyle dan ternyata malah laku,” sebutnya.

"Dari situ berangkat banyak teman-teman yang suka desain kita,” tambah dia.

Karena produknya diminati pasar,  Edwin pun mulai mengembangkan desain-desain lain. Desain TFG disesuaikan dengan permintaan pasar yang jadi tujuannya saat itu.

Menurut dia, jika sudah ada permintaan dan keinginan dari pasar akan lebih mudah dalam melaksanakan dan mengembangkan bisnisnya ke depan.

“Kami lebih responsif, jadi kalau sudah ada market-nya baru dibuat sesuai market yang minta. Produk-produk yang sekarang ada lebih ke orang-orang minta yang selama ini market-nya sudah ada. Seiring berkembangnya waktu kami pun diajarkan membuat brand produk yang beda,” jelasnya.

Edwin menambahkan, pelaku usaha bidang fashion dan lifestyle seperti dirinya sudah banyak lantas harus ada pembeda agar produknya bisa diingat dan dikenal banyak orang.

“Akhirnya kita spesifik tasnya ke hipster traveler,” ucapnya.

Mengusung tema tersebut, Edwin ingin produknya bisa dipakai oleh kalangan-kalangan traveler dengan gaya yang berbeda dan terkesan fashionable. Produk TFG menyasar generasi milenial dengan pemasaran banyak di wilayah Jawa terutama kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Namun, yang unik daerah-daerah lain seperti Aceh dan Jember juga banyak yang meminatinya. Edwin membanderol produk-produknya mulai Rp 150.000 untuk strap kamera dan Rp 300.000-Rp 500.000 untuk produk tasnya.

Hingga saat ini, TFG telah memasarkan produk-produknya secara online dan offlinemelalui 36 toko yang tersebar di seluruh Indonesia. Adapun omset TFG, Edwin mengaku menyentuh 9 digit. 

“Ya, di atas Rp 100 juta tapi di bawah Rp 1 miliar ya,” sebutnya.

Edwin menyebut, Indonesia merupakan pasar yang besar bagi para pengusaha sehingga bisa lebih berkembang lagi. 

“Wah, Indonesia itu punya pasar besar (untuk para pengusaha), bersyukur deh pokoknya tinggal di Indonesia dan punya usaha di sini,” tutur Edwin. (*)

Berita Terkait