Jatuh Bangun Bisnis Orang Terkaya Ketiga di Indonesia, Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja semasa hidup


POLIPRENEUR.com - Eka Tjipta Widjaja. Nama ini tidak begitu familiar di telinga orang Indonesia. Tapi jika menyebut Sinar Mas, maka banyak yang tahu. Siapa sangka, di balik suksesnya Sinar Mas Group, ada nama Eka Tjipta Widjaja.

Ya, Eka Tjipta Widjaja ialah pendiri Sinar Mas Group, yang kini merambah di berbagai sektor industri.

Eka Tjipta Widjaja, wafat pada Sabtu malam, 26 Januari 2019. Namun banyak yang tak tahu perjalanan bisnisnya melalui jatuh bangun sebelum akhirnya dinobatkan menjadi orang terkaya ketiga di Indonesia oleh majalah Forbes tahun 2018.

Eka Tjipta Widjaja terlahir dengan nama Oei Ek Tjhong pada 3 Oktober 1923 di Quanzhou, Cina. Ia baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia ketika berusia 9 tahun. Persinggungan dengan bisnis dimulai Eka Tjipta dengan berjualan biskuit dan segala barang dagangan yang ada di toko milik ayahnya.

Susahnya kehidupan membuat dirinya bahkan hanya dapat mencicipi pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar (SD) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Eka Tjipta yang beranjak remaja berkeliling di Makassar menjajakan dagangan, mulai berpikir untuk mencari pemasok yang dapat membuat bisnisnya kian berkembang. Namun tak lama menikmati keberhasilannya dengan bisnis yang baru, invasi Jepang di Tanah Air tak terhindarkan, bisnis Eka Tjipta lalu hancur lebur.

Eka Tjipta tak putus asa. Dia lalu mulai membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan untuk dibeli oleh tentara Jepang dan tawanannya pada masa itu.

Ia juga meminta izin kepada tentara-tentara Jepang tadi untuk mengambil barang-barang yang sudah dibuang. Barang-barang yang tampak sudah tidak berguna tadi kemudian dipilah-pilah.

Jika ada barang yang masih dapat digunakan ulang dan bernilai ekonomis kemudian dijual. 

Eka Tjipta kemudian menjual beberapa barang yang masih bernilai, misalnya terigu ditawarkan seharga Rp 50 per karung, semen seharga Rp 20 per karung. Dengan permintaan yang tinggi karena kondisi perang, Eka pun berkesempatan menaikkan harga-harga barang dagangannya.

Dari berjualan semen, Eka Tjipta sempat pula berbisnis membuatkan kuburan untuk orang-orang kaya. Setelah itu, dia juga masuk ke dalam bisnis menjual minyak kelapa.

Sejak Jepang memutuskan untuk jual-beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi, Eka Tjipta pun bangkrut. Eka Tjipta kembali memutar otak. Pilihannya jatuh untuk berdagang gula.

Ketika harga gula turun, bisnisnya melesu lagi. Dia bahkan harus menjual beberapa harta keluarga untuk menutupi utang yang melilit.

Tak berhenti di situ, Eka Tjipta Widjaja tampil lagi dengan ide bisnisnya yang baru, yakni membeli sebidang perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektare di Riau. Hal ini yang menandai perjalanan Sinar Mas pun dimulai. 

Berdasarkan profil perusahaan, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. didirikan pada 18 Juni 1962 dan langsung memulai aktivitas komersial.

Keberhasilan bisnis perkebunan tersebut pun kian melebarkan ke sektor lainnya, seperti di bidang properti, pulp and paper, dan jasa keuangan. Bahkan, Kelompok Usaha Sinar Mas tersebut berhasil menjadi salah satu konglomerat di Indonesia yang dapat melewati krisis moneter 1998.

Tentu dengan pengorbanan, seperti melepas PT Bank International Indonesia Tbk. yang kini lebih dikenal dengan nama Maybank.

Konglomerasi Sinar Mas besutan tersebut semakin bertambah, seperti hadirnya PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Puridelta Lestari Tbk. (DMAS), PT Sinarmas Multiartha Tbk. (SMMA), PT Smart Tbk. (SMAR), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM), PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP), PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN), PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS), PT Bank Sinarmas Tbk. (BSIM).

Eka Tjipta dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia dengan nilai US$ 8,6 miliar atau sekitar Rp 120,4 triliun (kurs 14.000) pada tahun 2018.

Secara keseluruhan, aset bersih 50 orang terkaya Indonesia di 2018 mencetak rekor baru dengan total nilai US$ 129 miliar atau naik US$ 3 miliar dari tahun sebelumnya.

Filosofi jujur, menjaga kredibilitas, dan bertanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial menjadi kompas hidupnya, yang kemudian bermetamorfosis menjadi nilai-nilai luhur Sinar Mas, yakni Integritas, Sikap Positif, Berkomitmen, Perbaikan Berkelanjutan, Inovatif dan Loyal. 

“Di sektor agrobisnis, Sinar Mas mengembangkan perusahaan oleokimia di Riau dengan menggandeng mitra perusahaan Spanyol, Cepsa,” tulis Forbes pada Desember tahun lalu.

Sektor agrobisnis ini kini dijalankan oleh salah satu putranya, Franky Oesman Widjaya, melalui bendera Golden Agri-Resources (GAR) Ltd. Forbes mencatat, pada 2018 GAR memiliki kapitalisasi pasar USD3,3 miliar.

Perusahaan yang didirikan pada 1996 itu memiliki 170.700 pekerja dengan kantor pusat di Singapura. GAR juga dikenal sebagai perusahaan agrobisnis yang gencar menanamkan modalnya di berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pengolahannya. (*)

Source : Tempo, Okz